Sterling telah menghabiskan beberapa sesi terakhir berkonsolidasi di dekat level $1.35 terhadap dolar, sebuah level yang mencerminkan dua cerita terpisah yang bertemu sekaligus: ekonomi Inggris yang terus mengungguli ekspektasi yang sebenarnya cukup moderat, dan prospek kebijakan AS yang jelas-jelas menjadi kurang hawkish. Office for National Statistics (ONS) mengonfirmasi bahwa produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh 0.4% pada kuartal kedua, sementara output bulanan untuk Juni naik 0.3%, lebih baik dari perkiraan, memberi Bank of England ruang lebih untuk terus melawan inflasi tanpa langsung menahan laju pertumbuhan. Kombinasi data aktivitas ekonomi yang tangguh dan dolar AS yang melemah ini sudah cukup untuk menjaga poundsterling tetap kuat, meski belum berhasil mendorongnya menembus hambatan teknikal utama berikutnya secara meyakinkan.

Peristiwa utama bagi sterling minggu ini jatuh pada hari Rabu, saat ONS dijadwalkan merilis Indeks Harga Konsumen (CPI) Inggris untuk bulan Juli. Rilis ini penting karena akan menunjukkan apakah inflasi terus melandai dari angka terakhir yang dipublikasikan, yaitu 2.8% secara tahunan untuk Juni, atau justru tekanan harga terbukti lebih persisten dari yang diharapkan para pembuat kebijakan. Pasar mengamati data ini dengan saksama untuk mencari petunjuk apakah Bank of England masih punya ruang untuk melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga saat ini, atau justru perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kejutan ke arah mana pun kemungkinan besar akan menggerakkan poundsterling dengan cepat, mengingat GBP/USD selama ini bergerak cukup ketat di sekitar level saat ini.

Biaya energi menambah kerumitan nyata bagi prospek inflasi tersebut. Minyak mentah Brent telah diperdagangkan mendekati $90 per barel setelah reli tajam yang dipicu oleh macetnya perundingan AS-Iran serta perlambatan signifikan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Ketergantungan besar Inggris pada energi impor membuat kenaikan harga minyak cenderung merembes ke angka inflasi negara ini lebih cepat dibandingkan ekonomi yang tidak terlalu bergantung pada impor energi. Periode harga minyak mentah yang tetap tinggi dalam waktu lama akan mempersulit tugas Bank of England, tepat ketika bank sentral ini sedang berupaya menilai apakah tekanan harga yang mendasar benar-benar mereda. Trader sebaiknya memperlakukan pasar minyak sebagai faktor aktif dalam cerita suku bunga Inggris, bukan sekadar isu sampingan.

Di sisi lain pasangan mata uang ini, dolar AS terus melemah seiring trader memangkas ekspektasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve. Data ketenagakerjaan Juli yang lemah, angka inflasi konsumen dan produsen yang mendingin, serta penurunan penjualan ritel bulanan sebesar 0.6% yang di luar dugaan, secara bersama-sama menekan probabilitas pasar untuk kenaikan suku bunga The Fed pada September hingga turun ke sekitar ~30%, penurunan yang cukup signifikan dari level yang terlihat di awal musim panas. Repricing ini menjadi angin segar yang nyata bagi sterling, memperlebar kesenjangan yang dipersepsikan antara arah suku bunga Inggris dan AS, serta memberi pasangan GBP/USD argumen selisih suku bunga yang tetap kuat meski tanpa katalis domestik baru.

Kalender Federal Reserve sendiri menambah lapisan lain pada rangkaian peristiwa hari Rabu. Risalah pertemuan The Fed pada 28-29 Juli dijadwalkan rilis di hari yang sama dengan laporan inflasi Inggris, dan perlu diingat bahwa risalah tersebut menggambarkan pertemuan yang berlangsung sebelum rangkaian data ketenagakerjaan, inflasi, dan penjualan ritel AS yang lebih lemah belakangan ini. Trader sebaiknya memperlakukan risalah ini sebagai tinjauan ke belakang mengenai seberapa terbelah pandangan para pejabat saat itu, bukan sebagai gambaran real-time tentang bagaimana The Fed memandang data terbaru, dan reaksi pasar apa pun perlu dipertimbangkan dengan memperhitungkan jeda waktu tersebut.

Data penjualan ritel Inggris juga akan dirilis pada akhir minggu ini, memberikan gambaran kedua tentang apakah ketahanan yang terlihat pada PDB kuartal kedua masih bertahan di tengah tekanan tagihan rumah tangga yang lebih tinggi. Data yang kuat akan memperkuat argumen bahwa ekonomi Inggris masih bisa menyerap kebijakan yang lebih ketat tanpa terhenti, sementara data yang lemah akan memunculkan pertanyaan baru tentang seberapa jauh lagi rentetan kejutan pertumbuhan positif ini bisa berlanjut. Kedua hasil ini kemungkinan besar akan berinteraksi dengan data inflasi hari Rabu dalam membentuk pandangan pasar jangka pendek terhadap langkah berikutnya dari Bank of England.

Dari sisi teknikal, tim analis MC Markets memandang $1.36 sebagai area resistance terdekat untuk GBP/USD, dengan batas atas berikutnya di sekitar $1.37 jika level tersebut berhasil ditembus. Di sisi bawah, support berada di kisaran $1.35, dengan level dasar yang lebih dalam di zona $1.33 hingga $1.34 jika sentimen berubah. Level-level ini mencerminkan rentang perdagangan terkini pasangan mata uang tersebut, bukan prediksi yang bersifat pasti, dan data inflasi Inggris yang lebih panas dari perkiraan yang dipadukan dengan risalah The Fed yang dovish akan menjadi kombinasi yang paling mungkin membuka jalan menuju batas atas rentang tersebut, sementara kombinasi sebaliknya akan membawa level-level bawah kembali menjadi relevan.

Secara keseluruhan, kalender minggu ini membuat GBP/USD berada dalam posisi seimbang di antara dua narasi bank sentral yang bergerak ke arah yang sebagian saling meniadakan: Bank of England yang masih punya pekerjaan rumah nyata dalam melawan inflasi, dan Federal Reserve yang semakin diyakini pasar telah selesai melakukan pengetatan untuk saat ini. Keseimbangan inilah yang membuat pasangan mata uang ini mampu bertahan di dekat level tertinggi multi-minggu tanpa melonjak agresif lebih tinggi, dan inilah mengapa rilis beruntun data inflasi Inggris dan risalah The Fed pada hari Rabu memiliki bobot yang sangat besar bagi arah pasangan ini menjelang akhir bulan.

Trading Forex Bersama MC Markets
Level Kunci

Wawasan Trading

Bagi trader, rilis beruntun data inflasi Inggris dan risalah The Fed pada hari Rabu adalah katalis volatilitas paling jelas dalam kalender minggu ini. Data CPI Juli yang lebih panas dari perkiraan, terutama jika berada di atas angka 2.8% bulan Juni yang baru-baru ini dipublikasikan, akan memperkuat argumen bahwa Bank of England perlu tetap waspada dan berpotensi mendorong GBP/USD menuju area resistance $1.36, dengan penembusan di level itu membuka jalan menuju $1.37. Sebaliknya, data inflasi yang lebih lunak dipadukan dengan risalah The Fed yang cenderung dovish akan melemahkan argumen selisih suku bunga yang selama ini menopang sterling, dan berpotensi mengirim pasangan ini kembali menuju $1.35, bahkan dengan koreksi lebih dalam hingga ke zona support $1.33-$1.34. Karena risalah The Fed menggambarkan pertemuan yang berlangsung sebelum data AS terbaru, trader sebaiknya memberi bobot lebih kecil pada reaksi dolar terhadap risalah tersebut dibandingkan reaksi terhadap data inflasi Inggris hari Rabu itu sendiri. Data penjualan ritel Inggris yang dirilis di akhir minggu menambah ujian kedua bagi ketahanan ekonomi, dan hasil yang lemah di sana bisa memperkuat pergerakan yang sudah dimulai dari laporan inflasi, alih-alih menjadi katalis independen. Mengingat kedekatan level saat ini dengan support maupun resistance, ukuran posisi menjelang rangkaian data hari Rabu sebaiknya memperhitungkan kemungkinan nyata terjadinya pergerakan tajam dua arah, bukan pergerakan bertahap ke satu arah saja.